LALIAN BERKISAH — Mentari perlahan pamit membawa sepenggal kisah, namun cerita hangat di Seminari Lalian belum benar-benar berakhir. Menggema suara lonceng panggilan, anak-anak seminari berbondong-bondong melangkah menuju Aula. Tidak ada keributan; hanya terdengar suara tegas para formator yang memegang mik pembesar suara. Hari itu, riuh suasana menyelimuti lomba debat dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Seminari Lalian yang telah melewati periode usia intannya.
Rangkaian perlombaan diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Gerson Bnani. Sebanyak 12 kelompok seminaris siap berlaga, yakni:
Kelompok 1 (St. Expedikus)
Kelompok 2 (St. Antonius Padua)
Kelompok 3 (St. Yohanes Paulus II)
Kelompok 4 (St. Tarsisius)
Kelompok 5 (St. Petrus)
Kelompok 6 (St. Carlo Acutis)
Kelompok 7 (St. Elizabeth)
Kelompok 8 (St. Michael)
Kelompok 9 (St. Theresia)
Kelompok 10 (St. Rafael)
Kelompok 11 (St. Aloysius Gonzaga)
Kelompok 12 (St. Damian)
Masing-masing kelompok diwakili oleh tiga orang orator terbaiknya.
Adu Argumen Bahasa Indonesia
Sesi pertama Lomba Debat Bahasa Indonesia langsung mempertemukan Kelompok 9 (tim afirmasi) dan Kelompok 7 (tim oposisi). Suasana panggung mendadak memanas saat Reno Binsasi dari Kelompok 9 dan Viki Kehi dari Kelompok 7 adu gagasan atas mosi: “Dewan ini membatasi penggunaan gawai pribadi demi memperkuat interaksi persaudaraan antar seminaris.”
Rangkaian penyisihan terus berlanjut hingga ditutup pertarungan Kelompok 8 dan Kelompok 6 dengan mosi: “Dewan ini lebih memaafkan kesalahan demi memulihkan persaudaraan daripada memberikan hukuman sebagai bentuk keadilan.”
Empat tim terbaik—Kelompok 5, 6, 7, dan 8—berhasil menembus babak semifinal yang digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026. Doa kembali dipimpin oleh Gerson Bnani sebelum persaingan sengit kembali terjadi. Kelompok 7 dan 6 berhadapan membawakan mosi “senioritas sebagai ancaman persaudaraan”, disusul persaingan Kelompok 5 dan 8 yang membahas mosi “budaya persaingan antar seminaris”.
Di bawah koordinasi Fr. Alby, tim juri yaitu Fr. Ari Tefa, Fr. Aldo Atamukin, dan Fr. Alby Febrian, akhirnya mengumumkan hasil akhir Lomba Debat Bahasa Indonesia:
Juara 1: Kelompok 6 (Boy Fobia, Aldo Taslulu, Arden)
Juara 2: Kelompok 5 (Aron Talan, Tian Lahera, Jev Abani)
Juara 3: Kelompok 8 (Redem Hale, Yanri Naiobe, Felmi)
Juara 4: Kelompok 7 (Miki Kehi, Elton Anunuk, Rafi Kaesnube)
Adu Gagasan Bahasa Inggris
Tak berhenti di situ, pada Minggu sore pukul 18.00–22.00 WITA, panggung kembali berguncang lewat Lomba Debat Bahasa Inggris yang diikuti oleh peserta dari ke-12 kelompok. Dinilai langsung oleh Fr. Alby Dwi Putra, SS.CC., Rm. Stef Seran, Pr., dan Pak Novarius Kore, perdebatan sengit tersebut menghasilkan urutan nilai tertinggi sebagai berikut:
Peringkat I: Kelompok 12 (Nilai: 90) – Chrisan Alfa, Valens Yunior, Lambertus Pelun.
Peringkat II: Kelompok 5 (Nilai: 85) – Juan Eko, Engel Lado, Mikhael Olin.
Peringkat III: Kelompok 7 (Nilai: 80) – Irenius Anunut, Mikhale Neverson, Barbarigo Mantonas.
Peringkat IV: Kelompok 4 (Nilai: 78)
Rangkaian panjang perdebatan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan ulang tahun. Melalui kegiatan ini, tim juri dan para pemangku kepentingan (stakeholders) berharap dapat menyaring serta mempersiapkan para siswa yang berbakat untuk mewakili sekolah pada ajang perlombaan di tingkat kabupaten maupun provinsi. Profisiat dan sukses selalu ke depannya. Salam guru dan murid HEBAT.
(Penulis: Adam Teme dan Selfianus Lopes)







